Beranda Berita Utama Pitres Sombowadile : Masyarakat Harus Melek Survei

Pitres Sombowadile : Masyarakat Harus Melek Survei

316
0

MEMBEDAH HASIL SURVEI ENTAH DAN ENTAH
(Catatan Analisis Politik Pilkada Sitaro 2018 # 6)

Oleh:
Pitres Sombowadile

SEBUAH kabar saya terima saat lagi tiduran di Kalibacat City di Jakarta. Kabar itu terkait dengan perkembangan Pilkada Sitaro 2018. Kabar kali ini bukan saja menarik, tapi juga menantang. Beberapa aktivis yang mengamati secara langsung perkembangan Pilkada di daerah kepulauan yang paling dekat ke Kota Manado itu kemarin membeber isi pesan itu di grup facebook yang terkait dengan Sitaro.

Mereka menyebut bahwa sebuah lembaga survei nasional, disebut mereka sebagai Indobarometer, telah merilis hasil survei yang membeber angka elektabilitas 52% untuk calon Evangeline Sasingen, biasa disapa ringkas sebagai Eva. Soal nama lembaga survei itu, informasi terakhir dari Siau justru menyebut nama yang lain, yaitu Populi Center. Entahlah, mana yang akurat. (Ini Entah Pertama).

Kabar yang jelas masih sas-sus itu, saya sebut menarik, karena lembaga kami (‘Center for Alternative Policy’/CAP Manado) baru saja melaksanakan survei lain di wilayah yang persis sama pada rentang waktu tidak terlalu jauh. Kami turun lapangan beberapa hari, yang lokusnya di pulau Siau, Tagulandang dan Biaro. Survei kami dilaksanakan di sana pada akhir September 2017 dan diolah awal Oktober, serta di-publikasikan terbuka di ‘Hotel Four Points’ Manado pada 6 Oktober 2017. Akademisi, aktivis partai, penggiat LSM dan media diundang menghadiri peluncuran hasil survei itu.

Yang mengejutkan saya dari selenting informasi hasil survei yang disebut sebagai produk dari Indobarometer itu adalah angka elektabilitas Eva yang melebihi 50%. Kabar itu mengernyitkan dahi dan menerbitkan tanda tanya? Angka elektabilitas Eva dalam survei kami hanya berada pada 33,56%, dibayangi pesaing terdekat yang terpaut dalam kisaran nilai margin error’, yaitu Bob Janis yang mencatatkan angka elektabilitas 29,02%. Grafiknya kami sudah rilis pada catatan saya sebelumnya di fb.

Angka elektabilitas Eva pada survei kami tidak jauh dari angka elektabilitas yang dicatatkan oleh lembaga survei lain, yaitu Charta Politika Indonesia, (Eva, 36,3%, hasil pada Agustus 2017). Mengapa angka-angka elektabilitas para calon dalam survei kami dan juga survei Charta belum mencapai angka 50%? Yaitu, karena masih tersebarnya dukungan pemilih pada begitu banyak bakal calon yang ada.
Para bakal calon itu semua sedang aktif menggarap dukungan di akar rumput daerah pemilihan. Ada belasan bakal calon yang tercatat sudah muncul ke permukaan.

Juga terungkap bahwa dukungan pemilih pada Toni Supit dalam dua pilkada Sitaro sebelumnya, tidak serta merta dapat dialihkan menjadi dukungan kepada istrinya, Eva.

Survei kami dirancang dengan metode ‘Multistage Random Sampling’ . Jumlah sampelnya (n) = 441 orang dari Populasi (N)= 54.343, yaitu pemilih sebagaimana angka DPT Pilgub Sulut 2015. Pemilih itu sebagaimana DPT itu tersebar 65% di Siau, 30% di Tagulandang dan Biaro 5%. Kami juga membuat pola penyebaran sampel ditarik mengikuti pola sebaran ini, adapun ‘Primari Sampling Unit’-nya adalah desa. Untuk target angka kepercayaan 95%, maka nilai ‘margin error’ akibat penarikan sampel itu adalah 4.66.

Sayang sekali bahwa kabar informasi hasil survei yang ‘disebut sebagai terkait dengan Indobarometer’ itu tidak dapat detil dikomentari, atas beberapa alasan:

Pertama, karena pihak yang disebut sebagai pelaksana survei, yaitu konon Indobarometer, memang tidak merilis hasil itu secara terbuka, baik di Manado, Siau atau Tagulandang, atau Biaro, apalagi Mahoro. Yang diterima sebagai info sekilas orang di Siau itu hanyalah bocoran yang tak juntrung jua. Bukan sebuah beberan hasil dari sang pelaksana survei. Karena hakikat info yang sas-sus itu, maka info yang kadung ditebar ke mana-mana itu memang diragukan kesahihannya. (Entah yang Kedua).

Kedua, info yang hanya sedemikian sepenggal itu sulit dikonsumsi, dikunyah, apalagi ditelan mentah-mentah. Karena kadar ketidakakuratan informasi yang maklumlah itu memang hanya selenting informasi saja. Apalagi, tidak ada keterangan metodologi survei, dan kapan persisnya survei dilaksanakan. Untuk urusan metodologi yang dipakai pelaku survei, biasanya diberi keterangan ihwal sampling, ukuran tingkat kepercayaan, jumlah sampel di tiga pulau besar, nilai ‘sampling error’ dan data teknis survei yang lain. (Entah yang Ketiga).

Karena ketiadaan keterangan-keterangan dasar ini, info hasil survei itu nyata-nyata tidak jelas landas tumpuannya. Kira-kira sama tidak jelasnya dengan letak titik landas mendarat dari ‘songko’ yang terbang dalam pusaran ‘dimpuluse’. Yang ragu, bias tanyakan pada ‘songko’.
Meski demikian, angka elektabilitas nan tinggi dari calon Eva, istri bupati petahana itu, nyata menantang untuk dikomentari secara khusus oleh pihak yang telah melakukan survei baik di pulau Siau, Tagulandang dan harus berlayar dengan perahu ‘pelang’ ke pulau Biaro, serta pulau-pulau sekitar Siau.

Beberapa teman saya menanyakan ihwal angka melejit Eva itu. Beberapa bahkan nyelikit ke saya seolah meragukan kerja survei kami. Untunglah setelah mereka melihat langsung dokumen-dokumen mentah dari Sitaro, mereka jadi sekadar bertanya: ‘Mungkinkah dalam waktu kurang sebulan elektabilitas Eva bisa tiba-tiba meroket?’

Saya sontak sergah: ‘’Tidak mungkin,’’ dengan nada agak tinggi. ‘’ Kecuali jika terjadi beberapa peristiwa dahsyat di daerah pemilihan,’’ urai tambahan saya. Misalnya, dari belasan bakal calon yang kini bekerja menggalang dukungan sebagian dari antara mereka telah memutuskan untuk urung dan mundur dari pertarungan. Dan mereka Bersama pendukungnya bergabung dengan Eva. Itu yang disebut fenomena swinging voters. Sederhananya mereka mengayunkan atau mengalihkan pilihannya ke arah ‘mendukung Eva’.

Apakah fenomena ini terjadi di Sitaro? Setahu saya tidak ada fakta ’swinging’ atau semacam itu. Kalau ayunan ‘bue-bue’ memang saya lihat di beberapa taman kanak-kanak di Siau. Juga ayunan ‘bue-bue’ di pinggir pantau yang diikatkan ke pohon bahu semacam di pantai desa Bulangan. Sejauh ini tidak ada bakal calon yang menyatakan urung bertarung dan sudah bertekuk lutut pada Eva. Malah sebaliknya, secara faktual di lapangan, yang terjadi adalah masih bertambahnya calon-calon baru ke dalam arena kontestasi.

Di lapangan (Siau) terjadi makin meluasnya penggarapan dukungan oleh calon-calon baru itu, semisal yang dilakukan tim Sonny Dauhan yang diplot hendak maju lewat jalur perseorangan. Juga muncul dan mulainya digarap dukungan nama bakal calon bermarga Manalip. Nama ini disebut-sebut oleh beberapa aktivis PDIP di Siau dan Manado. Belum dihitung Sisca Salindeho yang makin mantap ke jalur independen.

Lantas bagaimana pertumbuhan elektabilitas yang meroket itu bisa terjadi?

Keterangan yang paling kasar mungkin adalah daya pikir orang awam survei, yaitu ada pihak yang merubah angka-angka. Tindakan ini jelas secara moral merusak nama baik lembaga survei dan semua lembaga survei. Cara ini (mungkin) akan dihindari, apalagi jika sudah ada hasil survei lembaga lain sebelumnya. Apalagi juga, jika survei itu direncanakan hendak dibeber terbuka dalam acara ‘launching’ (peluncuran) hasil survei. Soal tuduhan kaum awam survei ini menghasilkan sebuah entah yang lain. (Entah Keempat).

Atau bisa saja kenaikan itu terjadi karena bias pelaksanaan survei. Misalnya, survei dilakukan dengan diktean tertentu, yaitu di antaranya dengan menghilangkan beberapa calon dalam kuesioner survey, dan tidak ada pertanyaan terbuka (‘open ended question’) agar pilihan pemilih terhadap calon dikontrol hanya pada calon-calon yang hendak didorong semata dan tidak dicari tahu pilihan ‘Top of Mind’ pemilih sebagai suara asli pilihannya. (Survei kami merilis peringkat elektabilitas ‘Top of Mind’). Apakah survei terkontrol itu ada hubungannya dengan diwajibkannya para calon yang berniat hendak diusung PDIP harus memakai lembaga survei Indobarometer. Entahlah. (Entah Kelima).

Setahu saya survei terkontrol yang ditemui di Siau pernah dikeluhkan oleh tim Hello. Karena konon nama Hello tidak masuk dalam daftar yang ditanyakan pada responden. Cara pengambilan sampel yang terkontrol ini membuat sampling menjadi tidak acak (random) lagi. Apalagi jika tidak tersedia pertanyaan terbuka, yang memungkinkan responden mengungkapkan calonnya, meski nama itu tidak ditaruh dalam daftar calon dalam lembar kuesioner.

Cara lain untuk menaikkan Eva adalah dengan membuat jumlah sampel tidak proporsional, yaitu memperbanyak sampel di Tagulandang yang merupakan daerah basis dukungan Eva, misalnya dengan memplot prosentase total sampel 60% di Tagulandang, 5% di Biaro dan 35% di Siau. Survei kami sudah mengungkap bahwa Eva mencatatkan angka elektabilitas senilai 60% di wilayah Tagulandang-Biaro, (grafiknya lihat pada catatan kami sebelumnya). Soal ini juga masih entah, karena hasil survei ‘Indobarometer’ (?) itu tidak dirilis terbuka. (Entah Keenam).

Disproporsionalitas jumlah sampel yang melebihi porsinya pada populasi ini pasti akan menghasilkan elektabilitas Eva yang jauh lebih besar dari elektabilitas calon-calon lainnya. Karena sebagian besar bakal calon sejauh ini memang terpusat basis dukungannya di pulau Siau. Dengan disproporsionalitas semacam ini, pasti angka elektabilitas Bob, Sisca, Ivon, Piet dan Maliogha akan ‘mudung’ ke dasar laut. Sedikit perkecualian mungkin akan terjadi pada pasangan Ronald/Rudolf yang punya pertahanan raihan suara di Tagulandang dan Biaro.

Cara lain mengambil jumlah sampel tidak proporsional dengan proporsi kelompok-kelompok pemilih dalam populasi, demi menaikkan elektabiitas Eva, adalah dengan mengambil proporsi sampel pemilih wilayah pedesaan (rural) yang tidak proporsional jumlahnya dari sampel wilayah perkotaan. Apalagi jika surveyor digiring aparat desa untuk menemui responden.

Sebaliknya, jika survey dilakukan dengan jumlah responden disproporsional yang diperbanyak jumlah responden wilayah perkotaan, maka Bob Janis jelas akan meroket tinggi. Memang hasil survei kami mengungkap untuk wilayah urban (kami mengambilnya 8 desa, yaitu Ondong, Paniki, Tatahadeng, Tarorane, Akesimbeka, Bahu (di Siau), dan Buhias serta Balehumara (di Tagulandang) ternyata pola elektabilitasnya dipuncaki oleh Bob Janis. Di wilayah perkotaan (urban) Bob mencatatkan elektabilitas 44,85%, sedang Eva hanya 21,32%. (lihat grafiknya).

Oh entah. Oh entah. Masyarakat mesti melek survei, secara khusus para pengurus partai./prd

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini