Beranda Berita Utama Bersepeda,Pasangan CEP-Sehan Kunjungi Pasar Serasi

Bersepeda,Pasangan CEP-Sehan Kunjungi Pasar Serasi

252
0

KOTAMOBAGU — Bantuan sosial (bansos) pemerintah berbentuk sembako yang diberikan pemerintah kepada masyarakat demi menahan dampak tekanan virus corona tak memberikan manfaat bagi pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) dan pasar tradisional.

Pasalnya pengadaan bantuan sembako tersebut tidak melibatkan UMKM dan pasar tradisional, tapi langsung dari pabrik.

Dengan model pengadaan seperti itu, praktis uang tidak berputar di pasar tradisional dan UMKM. Tapi, uang justru dinikmati perusahaan besar.

Hal ini yang kemudian memantik simpati Pasangan CEP-Sehan untuk berkunjung langsung ke Pasar-pasar yang ada di Sulawesi Utara (Sulut) untuk menyerap aspirasi mereka agar nantinya bisa dikondisikan ketika terpilih nanti sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur periode 2021-2026.

Seperti yang nampak hari ini (17/10/2020),saat ada agenda kampanye dialogis terbatas di Kotamobagu,pasangan CEP-Sehan menyempatkan diri berkunjung di Pasar Serasi yang berada di jalan Bolian Gogagoman,Kotamobagu Barat.

Pasangan CEP-Sehan yang datang dengan sepeda,langsung berbaur dengan pedagang dan berdiskusi.

“Masyarakat itu tidak butuh jalan tol,sebab yang biasanya melintas di tol itu hanya orang kaya.Kita sebagai pemimpin harus melihar dulu skala prirotas yang dibutuhkan rakyat,semisal kebutuhan mereka dimasa pandemi seperti saat sekarang yaitu memberikan bantuan secara langsung dengan melihat kebutuhan mendasar mereka”,ucap Eyang sapaan akrab SSL.

“Anggaran sembako Rp43,6 triliun itu uangnya lari ke korporasi karena pengadaan langsung ke pabrik tidak ke warung dan pasar tradisional. Hilang potensi rakyat, coba rakyat dikasih Rp43,6 triliun bisa belaja di warung, hidup kembali, jangan mengambil rezeki si UMKM itu,” ungkapnya.

CEP juga menambahkan kerugian UMKM dan pasar tradisional tidak hanya berhenti sampai di situ. Kerugian juga terjadi pada sektor logistik sektor pangan dan sembako yang totalnya Rp25 triliun. Padahal, seharusnya pemerintah menjaga sisi permintaan dan omzet para pelaku usaha kecil yang paling terdampak pandemi covid-19.

“Paling perlu untuk UMKM adalah menjaga yang namanya omzet, kalau UMKM makin sepi. Dari dana logistik, pangan, sembako Rp25 triliun, total Rp68,6 triliun itu hilang potensi UMKM,” terangnya.

Diketahui, Kementerian Keuangan menganggarkan total dana penanganan covid-19 sebesar Rp695,2 triliun. Dari total tersebut, untuk perlindungan sosial, pemerintah menganggarkan Rp203,9 triliun.//prd

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini